Masukkan Code ini K1-196Y68-4
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com Adsense Indonesia Add to Technorati Favorites Adsense Indonesia

26 September 2009

FENOMENA “PASAR MALAM” DI KAMPUNGKU

Dua hari setelah lebaran di kampungku diadakan “pasar malam” tapi saya tidak melihatnya sebagai sebuah pasar yang seperti biasa kita saksikan sehari-hari. Memang benar, pasar malam di kampungku ini ada juga yang berjualan seperti PK-5, ada yang berjualan mainan anak, pernak-pernik cincin, kalung, gelang, dan sebagainya. Dan ada juga permainan anak-anak seperti kuda putar, yang lucunya tidak digerakkan oleh mesin melainkan oleh manusia yang tidak lain adalah si pemilik wahana mainan itu sendiri yang terdiri atas beberapa orang, mereka bahu-membahu menarik dan memutar “kuda putar” ini selama kurang lebih 5 menit. Namun banyak juga anak-anak yang tertarik mencobanya, sampai-sampai ada yang menangis, ya..namanya juga anak-anak. Yang kedua adalah mainan anak-anak yang saya kurang tahu namanya, semacam “roller coaster” yang kalau kita tidak kuat kita akan merasa pusing setelah mencoba mainan ini, mungkin ini karena faktor ayunannya yang kuat. Nah..selain yang saya ungkapkan di atas ada lagi bentuk “permainan” yang mendominasi “pasar malam” ini tapi kalau saya perhatikan permainan ini lebih dekat dengan perjudian kalau tidak mau dikatakan judi beneran.

Ada beberapa macam tipe permainan ini, ada yang melempar gelang, satu coin-nya Rp. 500. cara mainnya: kita harus melempar gelang tersebut agar masuk ke dalam bantalan karet yang diatasnya diletakkan hadiahnya, kebanyakan adalah jam tangan. Namun sangat sulit untuk melempar tepat ke dalam bantalan tersebut karena ukuran gelang dengan bantalan karet yang berbentuk segi empat tersebut pas-pasan, sehingga kemungkinan untuk mendapatkan hadiahnya 100:1. kemudian ada lagi permainan sepeti kelereng gelinding yang dibuat untuk melewati rintangan paku yang di tempat-tempat tertentu di buatkan lobang-lobang untuk menjebak kelereng tersebut. Dan bila berhasil melewati rintangan tersebut maka akan dilihat jatuh di huruf apakah kelereng tersebut. Misal: jatuh di huruf A maka kita lihat di gambar A hadiahnya berupa apa. Dan setelah saya perhatikan huruf-huruf yang ada mayoritas adalah huruf dengan hadiah yang kecil, berupa sendok, shampo, deterjen, dan sebagainya. Sedangkan huruf dengan hadiah yang besar seperti dispenser, hrufnya hanya sedikit cuman satu doang!..ya inilah trik bandar biar nggak kalah. Nah…yang paling ramai setiap malam adalah permainan “bola gelinding” dimana para pemain memasang taruhan yang berupa coin, yang perbuahnya di hargai Rp.500 pada angka-angka yang tertera di papan yang terdiri atas angka 01 sampai 30. setelah seluruh pemain fix dengan pasangannya, maka digelindingkanlah bola itu melewati rintangan zig-zag dan setelah sampai pada nomor ternetu si pemain mencocokan pasangannya dengan nomor di mana bola itu jatuh, kalu klop maka bebas memilih hadiahnya berupa; susu, gula, minyak sayur, sarden kaleng, sirup, dan mie. Khusus untuk nomor : 2, 4, 15, 21, dan 23 hadiahnya sudah ditentukan yaitu sebungkus rokok dan tidak dapat ditukar. Bila diperhatikan banyak juga yang dapat hadiah tapi bila dihitung-hitung masih rugi dengan coin yang dibeli. Namun dari raut muka mereka ternyata mereka tidak ambil peduli seberapa banyak mereka mengeluarkan uang untuk membeli coin taruhan, yang ada di pikiran mereka adalah yang penting saya dapat hadiah, dan dengan begitu mereka sudah merasa “senang” dan “menang” meskipun kalau dihitung beneran pasti mereka kalah. Apa yang saya perhatikan dari permainan ini adalah bandar tidak mau memberi hadiah besar, katakanlah seperti dispenser misalnya, mengapa demikian? Saya berpandangan bahwa jika mereka memberi hadiah besar maka para bandar ini akan sangat riskan kalah.oleh sebab itu hadiah yang diberikan harganya tidak lebih dari Rp.15.000 seperti minyak goreng bungkusan, gula pasir bungkusan, susu kaleng ukuran kecil, sarden kaleng, dsb. Inilah trik bandar dalam perjudian, bandar telah menyiapkan segala sesuatunya tentang “permainan” yang akan dimainkannya. Adagium bagi bandar adalah: “bandar nggak boleh kalah” dan dari si pemain sendiri pun berlaku: “kalah penasaran” dan “menang pun juga penasaran”. Dan bisa saya prediksi bahwa bandar sampai tadi malam untung banyak!! Walaupun saya tidak menghitungnya. Ya.. inilah judi yang katanya “pasar malam” itu, yang momennya setelah lebaran bahkan letaknya berseberangan jalan dengan Masjid di tempat kami. Dan saya lihat orang yang biasa ke Masjid malah terlihat antusias sekali iku perjudian ini. Namun samapi detik ini saya tidak berminat main, belum se-senpun duit saya keluar di “pasar malam” ini. Kalupun saya ikut bermain maka hadiahnya harus lebih besar dari sekedar minyak goreng, gula mie, dsb. Saya nggak mau di ”kadali” oleh bandar. Dan bila umpamanya iseng-iseng membuat kuisioner yang pertanyaannya: “apakah anda untung dengan permainan ini?” maka pasti banyak di jawab orang di kampung saya: “untung dari mane…buntung malah ada..!!”..hiks..hiks..hiks…


18 September 2009

TOLERANTION IN RELIGION


They [federalists] fill their newspapers with falsehoods, calumnies, and audacities…we are going fairly through the experiment whether freedom of discussion, unaided by coercion, is not sufficient for the propagation and protection of truth, and for the maintenance of an administration pure and upright in its actions and views. No one ought to feel, under this experiment, more than myself. Nero wished all the necks of Rome United in one, that he might sever them at a blow. So our ex-federalists, wishing to have a single representative of all the objects of their hatred, honor me with that post, and exhibit against me such atrocities as no nation has ever before heard or endured. I shall protect them in the right of lying and caluminating, and still go on to merit the continuance of it, by pursuing steadily my object of proving that a people, easy in their circumstances as ours are, are capable of conducting themselves under a government founded not in the fears and follies of man, but on his reason, on the predominance of his social over his dissocial passions, so free as to restrain him in no moral right, and so firm as to protect him from every moral wrong, which shall leave him, in short, in possession of all his natural rights,

11 September 2009

“SIDE EFFECT” DARI RAMADHAN DAN LEBARAN

Momen bulan Ramadhan (Puasa) dan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) adalah merupakan kegiatan tahunan bagi umat muslim sedunia khususnya lagi bagi umat muslim di Indonesia. Seperti biasa jika mendekati bulan Ramadhan aktivitas masyarakat semakin meningkat, entah itu dalam rangka persiapan untuk acara Buka Puasa, sahur, kegiatan-kegiatan ibadah yang bernuansa keagamaan lainnya yang mengiringi bulan Puasa ini. Jika kita lihat aktivitas ekonomi pada bulan puasa ini, terasa sekali terjadinya peningkatan kapasitas ekonomi riil di masyarakat. Para pedagang/produsen/penjual mendekati bulan Ramadhan mulai menaikkan harga barang-barang (inflasi) terutama sekali terjadi pada barang-barang kebutuhan pokok (sembako) yang djual di masyarakat.

Kemudian, semakin mendekati Hari Raya Lebaran, para pedagang semakin bernafsu menaikkan harga barang-barang kebutuhan, tidak saja sebatas sembako, melainkan menjalar kepada kebutuhan barang-barang sekunder seperti TV, kipas, dan alat-alat elektronik lainnya. Semua ini dilakukan oleh para pedagang tidak lain adalah untuk mengejar laba yang besar. Tidak jarang dan seringkali kita mendengar melalui berita-berita di televisi dan surat kabar bahwa terjadi kelangkaan (scarcity) barang di pasaran. Hal ini seringkali bukan disebabkan karena stok barang yang ada dipedagang terjual habis, tetapi lebih disebabkan oleh pedagang itu sendiri yang menimbun barang dan berspekulasi dengan akan naiknya harga. Dan ketika harga dirasa sudah mencapai “peak” maka sedikit demi sedikit (untuk menghindari turunnya harga secara drastis) para pedagang spekulan ini mulai melepas barang-barangnya ke pasar tentunya dengan harga yang berbeda dengan harga pasar sebelumnya, dimana hukum ekonomi berlaku disini, ketika supply kurang dan demand sangat tinggi yang terjadi adalah berapun harga yang terbentuk, pasar akan menyerapnya. Dengan logika ini pedagang spekulan akan memperoleh untung besar dan masyarakat konsumen akan semakin bertambah pengeluarannya.

Dari sisi konsumen sendiri, maka bulan Ramadhan semakin meningkatkan belanja (spending) masyarakat dan semakin mendekati Hari Raya Lebaran pengeluaran masyarakat semakin meningkat pula, walaupun masyarakat ini sebagian memperoleh Tunjangan Hari Raya (THR) dari tempat mereka bekerja (bagaimana yang tidak dapat THR seperti pekerja-pekerja lepas,pedagang asongan, dll, dapat dipastikan mereka ini semakin tergencet hidupnya) tetapi pendapatan THR ini cenderung untuk juga dihabiskan memenuhi kebutuhan Lebaran, seperti belanja, hadiah Lebaran (angpao) untuk sanak keluarga. Alhasil Bulan Ramadhan dan Lebaran menjadi ajang perilaku konsumtif yang begitu hebatnya yang secara sadar atau tidak sadar telah mengganggu kehidupan ekonomi masyarakat seumumnya. Dan bila kita lihat setiap momen Lebaran ini, masyarakat cenderung untuk menjadikan Lebaran sebagai ajang “PAMER KEBENDAAN”, “PESTA-PORA” dengan segala macam warna-warninya. Dus, dengan fakta seperti ini, kita bisa berpendapat bahwa: Lebaran telah dijadikan sebagai ajang (secara sadar atau tidak sadar) sebagai “PENERAPAN BUDAYA MATERIALISME-KONSUMTIF”, dan jika orang-orang ini diberi tahu, maka dijawab: yaa…. Nggak apa-apalah… namanya juga Lebaran…setahun sekali..katanya..! Namun mereka ini tidak sadar dan tidak paham serta menggeser makna Idul Fitri (Lebaran) sebagai momen relejius menjadi momen keduniawian, :SURGA BUATAN”, yang dekat dengan aktivitas HEDONIS-MATERIALISTIS..!! Anda seperti ini..???!!!