Masukkan Code ini K1-196Y68-4
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com Adsense Indonesia Add to Technorati Favorites Adsense Indonesia

11 September 2009

“SIDE EFFECT” DARI RAMADHAN DAN LEBARAN

Momen bulan Ramadhan (Puasa) dan Hari Raya Idul Fitri (Lebaran) adalah merupakan kegiatan tahunan bagi umat muslim sedunia khususnya lagi bagi umat muslim di Indonesia. Seperti biasa jika mendekati bulan Ramadhan aktivitas masyarakat semakin meningkat, entah itu dalam rangka persiapan untuk acara Buka Puasa, sahur, kegiatan-kegiatan ibadah yang bernuansa keagamaan lainnya yang mengiringi bulan Puasa ini. Jika kita lihat aktivitas ekonomi pada bulan puasa ini, terasa sekali terjadinya peningkatan kapasitas ekonomi riil di masyarakat. Para pedagang/produsen/penjual mendekati bulan Ramadhan mulai menaikkan harga barang-barang (inflasi) terutama sekali terjadi pada barang-barang kebutuhan pokok (sembako) yang djual di masyarakat.

Kemudian, semakin mendekati Hari Raya Lebaran, para pedagang semakin bernafsu menaikkan harga barang-barang kebutuhan, tidak saja sebatas sembako, melainkan menjalar kepada kebutuhan barang-barang sekunder seperti TV, kipas, dan alat-alat elektronik lainnya. Semua ini dilakukan oleh para pedagang tidak lain adalah untuk mengejar laba yang besar. Tidak jarang dan seringkali kita mendengar melalui berita-berita di televisi dan surat kabar bahwa terjadi kelangkaan (scarcity) barang di pasaran. Hal ini seringkali bukan disebabkan karena stok barang yang ada dipedagang terjual habis, tetapi lebih disebabkan oleh pedagang itu sendiri yang menimbun barang dan berspekulasi dengan akan naiknya harga. Dan ketika harga dirasa sudah mencapai “peak” maka sedikit demi sedikit (untuk menghindari turunnya harga secara drastis) para pedagang spekulan ini mulai melepas barang-barangnya ke pasar tentunya dengan harga yang berbeda dengan harga pasar sebelumnya, dimana hukum ekonomi berlaku disini, ketika supply kurang dan demand sangat tinggi yang terjadi adalah berapun harga yang terbentuk, pasar akan menyerapnya. Dengan logika ini pedagang spekulan akan memperoleh untung besar dan masyarakat konsumen akan semakin bertambah pengeluarannya.

Dari sisi konsumen sendiri, maka bulan Ramadhan semakin meningkatkan belanja (spending) masyarakat dan semakin mendekati Hari Raya Lebaran pengeluaran masyarakat semakin meningkat pula, walaupun masyarakat ini sebagian memperoleh Tunjangan Hari Raya (THR) dari tempat mereka bekerja (bagaimana yang tidak dapat THR seperti pekerja-pekerja lepas,pedagang asongan, dll, dapat dipastikan mereka ini semakin tergencet hidupnya) tetapi pendapatan THR ini cenderung untuk juga dihabiskan memenuhi kebutuhan Lebaran, seperti belanja, hadiah Lebaran (angpao) untuk sanak keluarga. Alhasil Bulan Ramadhan dan Lebaran menjadi ajang perilaku konsumtif yang begitu hebatnya yang secara sadar atau tidak sadar telah mengganggu kehidupan ekonomi masyarakat seumumnya. Dan bila kita lihat setiap momen Lebaran ini, masyarakat cenderung untuk menjadikan Lebaran sebagai ajang “PAMER KEBENDAAN”, “PESTA-PORA” dengan segala macam warna-warninya. Dus, dengan fakta seperti ini, kita bisa berpendapat bahwa: Lebaran telah dijadikan sebagai ajang (secara sadar atau tidak sadar) sebagai “PENERAPAN BUDAYA MATERIALISME-KONSUMTIF”, dan jika orang-orang ini diberi tahu, maka dijawab: yaa…. Nggak apa-apalah… namanya juga Lebaran…setahun sekali..katanya..! Namun mereka ini tidak sadar dan tidak paham serta menggeser makna Idul Fitri (Lebaran) sebagai momen relejius menjadi momen keduniawian, :SURGA BUATAN”, yang dekat dengan aktivitas HEDONIS-MATERIALISTIS..!! Anda seperti ini..???!!!

No comments:

Post a Comment