Masukkan Code ini K1-196Y68-4
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com Adsense Indonesia Add to Technorati Favorites Adsense Indonesia

17 January 2009

BISAKAH PRINSIP PANCASILA HIDUP DALAM RUMAH LIBERALISME-KAPITALISME



Pembuktian hipotesis diatas akan memberikan gambaran sesungguhnya tentang posisi masing-masing ideologi baik itu Pancasila maupun Liberalisme-Kapitalisme. Di kehidupan sehari-hari kita disajikan tindakan-tindakan culas yang sudah lazim dilakukan oleh banyak orang di berbagai belahan dunia seperti menyuap, memanipulasi timbangan untuk menangguk untung besar, mencampur produk dengan bahan-bahan berbahaya untuk mengurangi biaya yang berarti meningkatkan laba penjualan, memanipulasi laporan keuangan untuk menghindari pajak, memanipulasi kuitansi, menekan buruh dengan upah yang rendah dan mengeksploitasi tenaganya, pembajakan, iklan yang menyesatkan, kompetisi yang saling sikut dengan menghalalkan berbagai cara, dan masih banyak penyakit masyarakat lainnya yang menghiasi dan menjadi fakta peradaban sekarang ini. Semua kejadian diatas adalah buah dari ajaran liberalisme-kapitalisme. Dalam ajaran liberalisme-kapitalisme manusia didefinisikan dan bertindak sebagai homo economicus yang berarti hidupnya itu hanya mengejar keuntungan sebesar-besarnya erat dengan kehidupan hedonis-sekularisme-materialisme dus menciptakan manusia sebagai makhluk tamak, serakah dan melupakan sisi lain dari dirinya yaitu sebagai homo socius (makhluk sosial), homo religius (mahluk Tuhan). Tindakan-tindakan amoral dan asosial peradaban liberalisme-kapitalisme terus berlangsung hingga sekarang ini. Sebagai bentuk terkini dari paham liberalisme-kapitalisme adalah apa yang dikenal sekarang sebagai globalisme yang sekarang diinternalisasikan ke seantero dunia yang tujuannya adalah sebagai alat imperialisme baru yang masuk dan membonceng melalui isu-isu HAM, demokrasi, dan dalam bentuk "bantuan-bantuan". Thomas Hobbes mengatakan apa yang dinamakannya dengan hukum rimba (state of nature) kemudian ia menggambarkan dalam "hukum rimba" manusia adalah "serigala" bagi manusia lainnya. Dalam "hukum rimba" persaingan adalah "pertarungan dari semua melawan semua" (the war of every man against every man) dus inilah sekarang yang sedang terjadi dan berlangsung serta kita rasakan. Pertanyaannya, Pancasila sebagai ideologi negara Indonesia sejak tahun 1945 akankah dapat hidup di negara Indonesia yang secara de jure mengakui Pancasila sebagai ideologi negara tetapi secara de facto menjalankan ideologi liberalisme-kapitalisme? Orang-orang yang optimis yang peduli akan nilai-nilai Ketuhanan dan cita-cita kemanusiaan akan mengatakan bahwa Pancasila itu akan dapat hidup dan tegak di bumi Indonesia! Penulis berasumsi bahwa Pancasila itu akan dapat hidup setelah hancurnya liberalisme-kapitalisme! sebagaimana penulis umpamakan sebagai "ikan hanya hidup di air" yang mana Pancasila sebagai ideologi negara telah terhegemoni oleh ideologi liberalisme-kapitalisme sehingga media kehidupan untuk Pancasila sedang ditutup. Untuk itu sambil menunggu puing-puing kehancuran liberalisme-kapitalisme maka para Pancasilais harus selalu siap-sedia untuk merebut momentum tersebut nantinya.Insya Allah!!!


15 January 2009

ISRAEL VS PALESTINA: PERADABAN DUNIA YANG SEDANG SEKARAT

Sejak akhir tahun 2008 kita disuguhkan oleh televisi dan media massa lainnya pemandangan yang sangat menyesakkkan, holocaust Israel terhadap rakyat Palestina!. Ribuan orang menjadi korban, siang dan malam hujan bom meluluh-lantakkan bumi Palestina, penyerangan membabi-buta Israel bila dilihat dari sudut pandang manapun tidak dapat dibenarkan dan bila dilihat dari kacamata penegakan HAM (Hak Azasi Manusia) maka Israel dapat digolongkan sebagai pelanggar HAM paling berat, penyerangan dan pembunuhan terhadap penduduk sipil terutama wanita dan anak-anak, pemboman Rumah Sakit,tempat ibadah, pemakaman, penembakan wartawan, dokter, pemblokadean bantuan kemanusiaan dan masih banyak lainnya merupakan fakta yang sangat nyata yang sedang berlangsung di depan mata kita! dan atas aksinya ini Israel patut untuk dihadapkan ke Mahkamah Internasional untuk mempertanggungjawabkan tindakannya sebagai kejahatan perang dan lebih-lebih lagi adalah suatu kejahatan terhadap kemanusiaan.PBB sebagai badan dunia yang paling berkompeten untuk mengakhiri konflik ini harus menunjukkan peran dan fungsinya secara nyata dan harus segera dilakukan. Disinilah merupakan pembuktian bahwasanya PBB bukanlah antek-antek Amerika dan di bawah hegemoni Amerika Serikat cs yang selama ini menjadi image dari badan dunia ini. Bukan Iran yang harus diberi sangsi, bukan Korea Utara, bukan pula Kuba yang diembargo tetapi Israel-lah sebagai penjahat yang sesungguhnya. Tindakan Israel di Palestina dapat dipersamakan dengan kekejaman yang dilakukan oleh rezim Khmer Merah ataupun genosida di Bosnia bahkan bila dilihat efek kerusakannya bahkan melebihi kejadian yang ada di zaman Khmer Merah dan Bosnia. PBB harus segera mengambil langkah yang sangat urgen yaitu: pertama, menghentikan segera peperangan dan menerapkan zona damai (Israel-Palestina) dan mengirimkan peace keeping force ke daerah konflik, kedua, mengajukan Israel ke Mahkamah Internasional atas tuduhan melakukan kejahatan perang dan tindakan kejahatan terhadap kemanusiaan. Inilah saatnya pembuktian bagi pendekar-pendekar HAM dunia untuk menunjukkan nyalinya dan menunjukkan dimana posisi mereka sebenarnya. Jika kedua hal tersebut terutama sekali pada action kedua tidak segera dilakukan bahkan dibiarkan maka semakin memperjelas bahwasanya propaganda demokratisasi dan penegakkan HAM hanya dijadikan topeng-topeng menjijikkan yang selama ini digembar-gemborkan oleh Barat ke penjuru dunia yang mana tujuan aslinya adalah untuk alat intervensi dan alat imperialisme terhadap negara lain supaya tunduk dan di eksploitasi kekayaannya. Demokrasi dan HAM oleh Barat dijadikan "mainan" oleh mereka, dimana demokrasi dan HAM itu ditentukan oleh maunya (subjektif) dan atas kepentingan Barat dan jika tidak sesuai dengan kehendak mereka (pembangkangan terhadap Barat) maka yang terjadi adalah seperti di Afganistan, Irak, dan sekarang sedang dilakukannya adalah proyek penjatuhan Iran. Fakta-fakta kejadian di dunia ini sudah begitu terang-benderang, ketidakadilan di depan mata kita dan kerusakan-kerusakan akut peradaban dunia sudah begitu menyedihkan dimana segelintir/sekelompok orang memanfaatkan kerusakan dunia ini untuk mewujudkan ambisi peradaban mereka, pesta-pora di atas penderitaan umat manusia. Semua kejadian ini tidak lain adalah buah dari menanggapi ajaran-ajaran yang anti terhadap ajaran Tuhan sehingga yang tercipta oleh ajaran ini adalah proses dehumanisasi peradaban manusia secara terus-menerus. Jika fakta berbicara demikian maka bolehlah saya mengatakan bahwa sudah tiba waktunya untuk dilakukan revolusi peradaban global yaitu bertujuan untuk menyelamatkan peradaban manusia yang sudah terperosok ini! Suatu revolusi terhadap tatanan dunia ini yang sudah tidak bernilai, yang jauh dari ajaran Ketuhanan dan cita-cita kemanusiaan dan cita-cita Pancasila. Semoga Tuhan mendengar!

12 January 2009

GOOD CORPORATE GOVERNANCE

GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Bila kita kaji dengan lebih mendalam tolak ukur dari terciptanya suatu keberhasilan kinerja dari perusahaan tidak terlepas dari penerapan (GCG) Good Corporate Governance. Dalam diktum Keputusan Menteri Badan Usaha milik Negara Nomor: KEP -117/M-MBU/2002 tanggal 01 Agustus 2002 tentang Penerapan Praktek Good Corporate governance pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) disebutkan bahwa "Prinsip Good Corporate Governance merupakan kaidah, norma ataupun pedoman korporasi yang diperlukan dalam sistem pengelolaan BUMN yang sehat."
Lebih jauh lagi disebutkan dalam Surat Keputusan tersebut, "Corporate Governance adalah suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organ BUMN untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas Perusahaan guna mewujudkan Nilai Pemegang Saham dalam jangka panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder lainnya, berlandaskan Peraturan Perundangan dan Nilai-nilai etika." Dalam penerapan (GCG) ada beberapa hal yang menjadi prinsip utama yang harus dipenuhi guna keberhasilan dalam praksis GCG nantinya. Prinsip-prinsip tersebut adalah:
1. Transparansi (Transparancy), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam mengemukakan informasi materiil dan relevan mengenai perusahaan.
2. Kemandirian (Independence), yaitu suatu keadaan dimana Perusahaan dikelola secara profesional tanpa benturan kepentingan dan pengaruh/tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat.
3. Akuntabilitas (Accountability), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan, dan pertanggungjawaban organ, sehingga pengelolaan Perusahaan terlaksana secara efektif.
4. Pertanggungjawaban (Responsibility), yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan Perusahaan terhadap Peraturan Perundang-undangan yang berlaku dan prisip-prinsip korporasi yang sehat.
5. Kewajaran (Fairness), yaitu keadilan dan kesetaraan di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan Perjanjian dan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.
(Sudharmono 2004) mengatakan ada tiga hal yang perlu dilakukan untuk menerapkan GCG, suatu model penerapan GCG yang disebut BE G2C (Good Geverned Company) ketiga tahap tersebut adalah:
1. Comprehension (Pemahaman Secara Mendalam)
Comprehension atau pemahaman Secara Mendalam merupakan tahapan awal dalam penerapan GCG di dalam perusahaan dalam rangka menjadi G2C.Ada dua unsur utama yang harus dipahami dalam tahap ini, yaitu :
1. GCG'S Principles;dan
Key Person.
GCG'S Principles (TIARF) meliputi:
-Transparency (transparansi)
-Independence (kemandirian)
-Accountability (akuntabilitas)
-Responsibility (pertanggungjawaban)
-Fairness (keadilan atau kewajaran)
Key Persons meliputi:
-Pemegang saham
-Komisaris/Dewan Pengawas
-Direksi
-Manajer
-Sekretaris Perusahaan
-Satuan Pengawasan Intern
-Tim Penerapan GCG.
Pada hakikatnya tahap comprehension sasarannya adalah "pemahaman secara mendalam tentang GCG'S principles oleh Key Persons".Pemahaman mendalam dalam hal ini termasuk pemahaman atas hak dan kewajiban dan proses bisnis/kegiatan kunci dari key persons. Untuk mengetahui apakah sasaran tersebut telah tercapai perlu ditetapkan Indikator keberhasilan. Beberapa contoh indikator keberhasilan adalah:
1. Terlaksananya seminar atau breifing tentang GCG kepada management,
2. Terbentuknya tim GCG,
3. Terlaksananya Training GCG kepada tim GCG,
4. Tersusunnya kerangka dasar Code of Conduct GCG,
5. Terlaksananya Self Assessment GCG.
2. Consolidation (Konsolidasi Manusia dan Sistem)
Ada dua unsur utama yang harus dibangun pada tahap ini, yaitu:
-System
-Commitment
Pada tahap consolidation sasarannya adalah "Pembangunan sarana dan prasarana GCG serta komitmen manajemen". Beberapa contoh indikator keberhasilan pada tahap consolidation antara lain :
-Tersusunnya peta praktek GCG,
-Tersusunnya code of conduct GCG,
-Tersusunnya Board Manual GCG bagi komisaris dan direksi,
-Terlaksananya audit/asesmen GCG oleh konsultan,
-Terlaksananya pembuatan website/situs/portal GCG,
-Terlaksananya sosialisasi dan Training GCG kepada Top Management dan Senior Management,
-komitmen Top Management dalam penerapan GCG.
3. Continuous Improvement (Perbaikan Terus Menerus)
Pada tahap ini adalah telah masuk dalam Organisasi Pembelajaran (Learning Organization), dalam Organisasi Pembelajaran perusahaan merupakan wadah atau media bagi seluruh anggota organisasi untuk mengelola pengetahuan (knowledge management) melalui continuous improvement dalam rangka creating value.Unsur utama dalam tahap ini adalah "Learning dan Sharing". Dalam penerapan GCG harus selalu diciptakan situasi Learning dan Sharing (Pembelajaran dan Pengajaran) yang kondusif dan efektif serta efisien yang melibatkan seluruh anggota organisasi sehingga masing-masing individu dapat berperan dalam memberikan kontribusi yang nyata untuk menciptakan nilai perusahaan.Pada tahap continuous improvement yang menjadi sasaran adalah "menjadi perusahaan yang memiliki kompetensi dalam praktek bisnis berdasarkan prinsip-prinsip GCG,atau disebut G2C." Pada tahap ini perusahaan telah mampu memiliki kompetensi dalam praktek bisnis di seluruh jajaran organisasi berdasarkan prinsip-prinsip GCG (GCG-Based Competencies). Pada tahap ini indikator keberhasilannya antara lain:
-Terlaksananya perbaikan praktek bisnis terus menerus berdasarkan prinsip-prinsip GCG,
-Terlaksananya pembelajaran dan pengajaran (learning dan sharing) GCG melalui jaringan internet/intranet,
-Terlaksananya sosialisasi GCG kepada seluruh pimpinan dan karyawan di jajaran perusahaan,
-terlaksananya audit/asesmen GCG.

06 January 2009

BUDAYA KORPORAT


Salah satu isu utama dalam membangun dan memberdayakan BUMN ialah isu tentang budaya perusahaan atau lebih dikenal dengan budaya korporasi. Ada beberapa BUMN yang telah mempunyai budaya perusahaan antara lain Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT. Telekomunikasi Indonesia, PT. Pupuk Sriwijaya, PT. Indonesia Power, dan Pertamina. Seberapa pentingkah budaya bagi perusahaan (moeljono 2004) mengatakan bahwa keberadaan suatu perusahaan komersial pada umumnya mempunyai tujuan jangka panjang yang dilandasi dengan motif ekonomi untuk menghasilkan nilai-nilai tambah dan manfaat ekonomi bagi stakeholders yang meliputi para pemegang saham, karyawan, mitra kerja, dan masyarakat umumnya. Untuk mewujudkan nilai-nilai tambah dan manfaat ekonomi tersebut, perusahaan diharapkan mempunyai visi, misi, strategi, program kerja yang terencana, terfokus, dan berkesinambungan.Pada tanggal 23-25 April 1999 di Cambridge diselenggarakan simposium Cultural Values and Human Progress, American Academy for International and Area Studies. Simposium ini menghadirkan temuan budaya dari seluruh dunia dan dirangkum dalam sebuah buku Culture Matters:How Values Shape human Progress (2000) disunting oleh Lawrence E. Harrison dan Samuel P. Huntington yang membawa kesimpulan bahwa budaya menentukan kemajuan dari setiap masyarakat, negara, dan bangsa di seluruh dunia, baik ditinjau dari sisi politik, sosial, maupun ekonomi, tanpa kecuali. Temuan dari J. Peters dan Robert Waterman menunjukkan bahwa ada tujuah variabel berpengaruh terhadap kesuksesan suatu organisasi yang diberi nama sebagai "Mckinsey Seven (7)S" yang isinya adalah strategy(strategi), structure(struktur), style(gaya), system(sistem), staff(SDM), skills(kemampuan/keterampilan), dan shared values(budaya perusahaan). Budaya korporat pada umumnya merupakan pernyataan filosofis, dapat difungsikan sebagai tuntutan yang mengikat para karyawan karena dapat diformulasikan secara formal dalam berbagai peraturan dan ketentuan perusahaan. Dengan membakukan budaya korporat sebagai suatu acuan bagi ketentuan atau peraturan yang berlaku, para pemimpin dan karyawan secara tidak langsung akan terikat sehingga dapat membentuk sikap dan perilaku sesuai dengan visi dan misi serta strategi perusahaan. Selanjutnya (moeljono 2004) mengartikan bahwa budaya korporat adalah sistem nilai-nilai yang diyakini oleh semua anggota organisasi dan yang dipelajari, diterapkan, serta dikembangkan secara berkesinambungan, berfungsi sebagai sistem perekat, dan dapat dijadikan acuan berperilaku dalam organisasi untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.dari pengertian ini dapat ditarik beberapa pemikiran bahwasanya budaya korporat adalah "nilai-nilai dasar yang mempunyai dalil-dalil" yang dapat dipersamakan seperti kitab-kitab suci yang dturunkan oleh Tuhan kepada umat manusia yang tidak disangsikan lagi kebenarannya yang harus diabsorpsi dan diejawantahkan dalam berbagai segi kehidupan, dan dalam konteks korporat/perusahaan budaya korporat berarti juga code of conduct bagi setiap karyawan dalam suatu perusahaan baik dilevel atas, menengah, dan bawah yang harus menerapkan budaya korporat secara menyeluruh dalam setiap segi dalam perusahaan guna meningkatkan kinerja dan performa dari perusahaan yang bersangkutan.