Masukkan Code ini K1-196Y68-4
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com Adsense Indonesia Add to Technorati Favorites Adsense Indonesia

06 September 2010

DIPLOMASI “TAKUT” INDONESIA TERHADAP MALAYSIA (SEBUAH POTRET KEGAGALAN PEMBANGUNAN BANGSA)

Seperti yang kita saksikan bersama melalui layar televisi nasional yang ditonton oleh kurang lebih 240 juta rakyat Indonesia, Presiden Susilo Bambang Yudoyono menyampaikan tanggapannya terhadap semakin meruncingnya hubungan RI-Malaysia beberapa waktu belakangan ini, apa yang disampaikannya ternyata tidak sesuai dengan pengharapan dari sebagian masyarakat Indonesia. Rakyat menginginkan agar presiden lebih tegas, lebih strenght terhadap Malaysia. Dari pidato presiden terlihat bahwasanya presiden SBY sebagai benteng diplomasi terakhir masih “takut-takut” terhadap Malaysia, seperti kalimat, “...TKI Indonesia yang bekerja di Malaysia kurang lebih berjumlah 2 juta orang, mereka adalah penghasil devisa untuk negara..” investasi Malaysia di Indonesia...dan hubungan ekonomi RI-Malaysia berjalan baik...”, ini menunjukkan bahwa RI tidak punya bargaining position terhadap Malaysia. Mari kita berpikir sedikit cerdas, kalau pemerintah tidak mau “terbebani” oleh TKI yang 2 juta orang tersebut, maka segera pulangkan mereka ke tanah air. Bukankah dana 1,8 T (untuk pembangunan gedung DPR baru) yang sedang ditentang keras oleh masyarakat bisa digunakan untuk membuka lapangan kerja baru bagi 2 juta TKI tersebut? Jikalau dana itu masih kurang, bukankah kita bisa mengambilnya dari anggaran pos-pos lain yang tidak begitu urgen? Kemudian jika karena Malaysia menjadi investor di Indoensia lalu pemerintah “takut” kalau Malaysia akan menarik investasinya dan terjadi PHK yang berarti terjadi pengangguran, bukankah ini karena kesalahan pemerintah sendiri dalam penerapan kebijakan ekonomi? Yang membuka keran liberalisasi ekonomi, sehingga ekonomi kapitalisme masuk dan memegang kendali perekonomian nasional. Asing (yang karena pemilik modal) diagung-agungkan, “dipuja-puja”, yang “disembah-sembah”, sang “kapitalis” menjadi “tuan” bangsa ini sedangkan bangsa sendiri hanya menjadi penonton, menjadi kuli-kuli, menjadi jongos-jongos, dengan sistem ini rakyat hanya menjadi “sapi perahan” sedangkan yang menikmatinya hanya segelintir orang/kelompok. Inilah yang sedang terjadi di Indonesia sekarang, maka segeralah berubah! Ekonomi berdikari! Kata Soekarno, karena itu kembalilah kepada ekonomi konstitusi ! Kembali kepada hubungan RI-Malaysia maka pemerintah tak perlu takut untuk kehilangan investasi dari Malaysia, masih banyak cara lain untuk membangun ekonomi Indonesia dengan lebih bermartabat! Jika pemerintah hanya “menyandarkan” dan “menghambakan” diri pada model ekonomi konvensional, garis neoliberal, maka kebijakan yang dipilih tidak akan ada yang berubah (miskin terobosan), maka bukalah mata, buka pikiran masih ada sistem ekonomi Syari’ah, ekonomi Pancasila atau ekonomi Konstitusi atau ekonomi Kerakyatan, cobalah pemerintah mendengarkan suara mereka yang bukan dari arus ekonomi mainstream (liberal), dengarkan suara-suara mereka! Jikalau kita ingin secara fair menilai suatu ilmu maka berilah keduanya kesempatan untuk “manggung”, karena seperti yang sudah dibuktikan oleh sejarah bahwa sistem ekonomi kapitalisme tidak dapat mewujudkan kemakmuran di masyarakat, yang dihasilkan oleh sistem ini adalah penghisapan dari suatu kelompok kepada kelompok lain, penghisapan dari kapitalis terhadap proletar! Tinggal sekarang, maukah pemerintah berubah haluan? Malaysia berani bersikap seperti ini kepada kita disebabkan karena Indonesia dipandang “lemah” di mata mereka, lemah secara ekonomi maupun militer. Dapat kita bayangkan kalau Malaysia saja bisa bersikap seperti ini, bagaimana ketika kita harus berhadapan dengan adidaya seperti Amerika Serikat dan negara-negara maju lainnya? Maka bangsa Indonesia (pemerintah) bersikaplah “gagah berani”, pemerintah tidak boleh bersikap “tidak berdaya” di mata bangsa lain. Bangsa ini adalah bangsa besar, kita adalah pewaris-pewaris Soekarno, kita harus mewarisi “kehebatan” para founding fathers kita. Tunjukkan bahwa kit adalah bangsa besar, bukan saja besar penduduknya, bukan saja melimpah ruah kekayaan alamnya, tetapi yang lebih esensil adalah kita adalah bangsa besar yang yang harus menjunjung tinggi kepada ideologi negara, Pancasila dan UUD 1945! Sepert halnya jikalau umat Islam ingin besar, maka kata nabi Muhammad saw : “...maka berpegang teguhlah kalian pada Alquran dan Sunnah Rasul..” untuk konteks Indonesia, maka berpegang teguhlah kita kepada Pancasila dan UUD 1945 sebagai penuntun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara! Dan jika bangsa kita masih seperti ini, maka kita akan terus dilecehkan, ditinggalkan oleh bangsa lain, dan perlu kita ingat “Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum, melainkan kaum itu sendiri yang merubahnya”, maka semoga bangsa Indonesia berubah menjadi lebih baik,..amin ya rabbal alamiin.

1 comment:

  1. Dan marilah kita berbuat untuk lebih mencintai Indonesia

    ReplyDelete