Masukkan Code ini K1-196Y68-4
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com Adsense Indonesia Add to Technorati Favorites Adsense Indonesia

05 March 2009

INDONESIA (2)

Isu SARA terutama isu agama merupakan isu sentral dalam sejarah bangsa Indonesia, kata Soekarno setiap ideologi ada peruncingan, ideologi A (agama) pernah terjadi peruncingan yaitu terjadinya pemberontakan DI/TII, gerakan Kahar Muzakar dan peristiwa Ambon dan Poso. Adalah sangat menarik bila kita analisa kejadian-kejadian tersebut dengan menggunakan kacamata Karl Marx yang mana ia mengatakan bahwa "religion is opium" agama adalah candu, apa maksudnya? Apakah Karl Marx dan para pengikut aliran marxisme/komunisme itu anti Tuhan (atheis)? Soekarno yang mengakui dirinya secara terang-terangan sebagai penganut marxisme mengatakan tidak ada kitab marxis yang mengatakan anti Tuhan, yang tidak mengakui keberadaan Tuhan. Dan dapat kita lihat kondisi objektif bahwa di Uni Soviet/Rusia terdapat bangunan-bangunan tempat ibadah seperti katedral , di Cina banyak terdapat wihara, kuil, masjid, begitupun juga di negara-negara penganut komunisme/marxisme lainnya seperti Kuba, Korea Utara kegiatan ritual keagamaan berjalan lancar tanpa ada gangguan dari pihak manapun, hal ini menunjukkan bahwa keberagamaan diakui di negara-negara ini. Dus, apa sebenarnya maksud pernyataan Karl Marx tersebut ? Pernyataan tersebut dapat di analisis, sebagai perumpamaan ketika seseorang menjadi pecandu narkoba dimana kehidupannya akan tergantung terus kepada obat-obatan ini. Maka ketika tubuh pecandu ini mengonsumsi narkoba ini maka yang dirasakan adalah kenikmatan, perasaaan senang, dan berbagai macam perasaan lainnya yang bersifat semu. lalu apa yang terjadi ketika ia berhenti mengonsumsinya? karena tingkat ketergantungan yang diakibatkannya begitu tinggi maka ketika pecandu tersebut berhenti mengonsumsi maka ia akan mengalami depresi, gelisah, atau bahasa kerennya mengalami sakau, dan sebagainya. Penggambaran ini dapat kita pakai untuk mejelaskan pernyataan karl Marx tentang agama, yaitu jikalau seseorang merasa tersinggung, merasa terusik keberagamaannya maka yang terjadi adalah seperti pecandu narkoba yang sedang sakau. Apa yang terjadi di Ambon dan Poso dan konflik-konflik antar agama maupun intra agama merupakan suatu contoh ketika orang sedang sakau dalam beragama!!! konflik-konflik yang diakibatkan oleh tidak adanya lagi acuan, barometer yang menata kehidupan beragama. Rusaknya agama ketika unsur subyektifitas manusia ikut andil di dalamnya, dan jika sudah begitu ajaran Tuhan tidak lagi bernilai ilmiah, unsur subyektifitas manusia akan menggiring ajaran tersebut menjadi maunya si pembuat, menurut logikanya si pembuat. Adanya berbagai macam aliran agama, macam-macam tafsir yang diajukan oleh berbagai juru tafsir yang bukan menjadi satu-kesatuan melainkan menjadi saling berlawanan dan saling menjatuhkan bahkan sampai saling memurtadkan antara satu dengan lainnya merupakan fakta riil yang ada di depan kita. Namun yang pasti dari sekian banyak aliran-aliran tersebut yang pasti, hanya satu yang benar, karena hakikat kebenaran itu adalah satu, kebenaran itu tunggal yang satu inilah merupakan penegak ajaran Tuhan yang sesungguhnya dan sisanya adalah golongan perusak kehidupan !!!

No comments:

Post a Comment