09 May 2009

MENJADI GURU YANG BERKUALITAS


Indikator bagus atau tidaknya sebuah sekolah, salah satunya ditentukan oleh faktor guru. Oleh sebab itu, semakin banyak guru yang berkualitas pada suatu sekolah, akan semakin berkualitaslah sekolah itu. Menjadi guru yang berkualitas memang bukan perkara mudah. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu anda perhatikan untuk menjadi atau mencari guru yang berkualitas.

Pertama, guru harus memiliki profesionalisme di bidangnya. Profesionalisme disini berarti guru tersebut harus memiliki pengetahuan yang luas tentang bidang yang diajarnya. Sebagai contoh, jika guru mengajar Bahasa Indonesia, maka dia perlu memahami semua hal yang berhubungan dengan Bahasa Indonesia dan perkembangannya. Hal ini untuk mengantisipasi berbagai macam pertanyaan dari siswa. Apalagi siswa-siswi sekarang lebih kritis dan cerdas dalam bertanya.

Kedua, guru harus mempersiapkan bahan ajar. Salah satu hal yang membuat guru lebih pandai dibandingkan muridnya adalah karena guru telah mempelajari materinya terlebih dahulu. Oleh sebab itu, guru yang baik adalah guru yang telah mempersiapkan bahan ajarnya terlebih dahulu.
Selain itu, gurupun sebaiknya memiliki bahan ajar yang lebih “kaya” dan lengkap daripada muridnya. Sebab, biasanya ada siswa yang belajar terlebih dahulu dari buku paket yang diberikan pihak sekolah.

Ketiga, guru harus dapat menyampaikan materi dengan jelas. Hal ini berhubungan dengan cara mengajar guru tersebut. Guru yang mengajar dengan metode kuno (satu arah) dan menjemukan biasanya membuat siswa tidak bersemangat dalam belajar. Oleh sebab itu, guru harus mengajar dengan metode dua arah dan kreatif dalam mengajar. Jika perlu, selipkan beberapa humor agar suasana belajar-mengajar tidak kaku, tetapi menyenangkan.

Keempat, guru harus dapat mengelola kelas. Menjadi seorang guru berarti harus siap berhadapan dengan berbagai macam jenis siswa. Mulai dari yang baik, rajin, patuh, hingga yang malas. Oleh sebab itu, seorang guru sebaiknya memiliki kemampuan mengelola kelas dengan baik.
Hal ini dapat dilakukan dengan tidak membedakan antara siswa yang pandai dengan yang malas. Sebab, jika siswa yang malas diberi kepercayaan lebih dari seorang guru, biasanya mereka akan lebih termotivasi untuk belajar lebih baik lagi.

Kelima, guru harus melakukan evaluasi. Evaluasi ini menyangkut evaluasi dirinya sendiri dan evaluasi ke siswa. Biasanya guru memberikan evaluasi ke siswa melalui ujian, siswa memperoleh nilai yang kurang baik, sebaiknya guru tersebut mengevaluasinya. Evaluasi ini dapat dimulai dengan instropeksi diri ketika mengajar, setelah itu bahaslah bersama-sama siswa tentang bagian mana yang belum mereka mengerti.

Keenam, guru harus dapat berhubungan baik dengan orang tua siswa. Selain berhubungan dengan siswa, guru pun sebaiknya dapat berhubungan baik dengan orang tua siswa. Jadi, disini akan terjalin kerjasama yang baik antara guru dan orang tua sehingga dapat memantau perkembangan belajar siswa tersebut.


(Sumber: Kompas,31 Maret 2009)

2 comments: