Masukkan Code ini K1-196Y68-4
untuk berbelanja di KutuKutuBuku.com Adsense Indonesia Add to Technorati Favorites Adsense Indonesia

23 February 2009

MERINTIS GLOBALISASI MUSIK INDONESIA

Pasca era Orde Baru tahun 1998 gaung kebebasan yang bak air bah telah membanjiri segenap sendi kehidupan di masyarakat dan tidak ketinggalan adalah angin perubahan di bidang industri musik Indonesia. Banyak bermunculan grup-grup band dan penyanyi solo yang menghias blantika musik Indonesia mulai kemunculan Sheila On Seven (SO7), Peter Pan, Padi, hingga kemunculan Changcuters, D'massiv dan banyak lagi lainnya. Jika kita flashback ke belakang dimulai pada masa Orde Lama yang menerapkan suatu doktrin berkebudayaan nasional yang melarang segala bentuk budaya yang tidak sesuai dengan kebudayaan Indonesia maka salah satu dampaknya adalah dilarangnya musik-musik yang berbau asing (kebarat-baratan) seperti yang dikatakan oleh Bung Karno pada waktu itu:
"....... Capailah satu negara kesatuan Republik Indonesia, republik yang kuat berwilayah kekuasaan Sabang sampai Marauke, capailah kebudayaan sendiri yang berdiri di atas kaki sendiri, diatas kepribadian sendiri-sendiri. Maka itu he, pemuda-pemuda, awas-awas, kalau masih ada sasak-sasakan, kalau masih ada beatle-beatle-an, kalu masih ada rock and roll, rock and roll-an, ya seperti kawanmu yang bernama Kus Bersaudara itu, apa itu. Apa tidak punya kita lagu sendiri yang sesuai dengan kepribadian Indonesia sendiri, kenapa mesti tiru Elvis Presley, Elvis Presley-an,.........".
Dan sebagai akibatnya grup Musik Kus Bersaudara yang terkenal dan melegenda dengan nama Koes Ploes dimasukkan ke dalam penjara. Memasuki era Orde Baru industri musik tanah air masih di dominasi oleh para invador-invador asing khususnya grup-grup musik rock. Pada masa ini musik rock mencapai kedigdayaannya semboyan "life to rock" menginternalisasi di dalam kehidupan mayoritas anak-anak muda masa itu lengkap dengan rambut gondrong dan aksesorisnya. Pasca Orde Baru dunia musik ditandai dengan bermunculannya grup-grup band lokal yang berhasil menciptakan hits di pasaran seperti yang penulis sebutkan diatas, dan lambat laun mulai mengambil alih pasar dari musik luar negeri. Dan dapat dikatakan pada saat sekarang ini musik Indonesia telah dapat menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, bahkan banyak grup musik band/solo yang didaulat untuk mengadakan konser di luar negeri meskipun yang mengundangnya adalah perkumpulan orang Indonesia sendiri yang berada di luar negeri, namun itu semakin membuka peluang musisi-musisi Indonesia untuk berpromosi dan mengenalkan lagu-lagu ciptaannya ke luar negeri. Perkembangan lainnya dari musik Indonesia adalah diadakannya konser dangdut di Amerika Serikat yang diikuti oleh orang-orang Amerika sendiri bahkan ada yang sampai datang ke Indonesia untuk mempelajari musik dangdut. Kemudian kita melihat ke negeri tetangga Malaysia, disana musik/lagu-lagu Indonesia sedang laris-manis di request oleh masyarakat Malaysia dan banyak yang menduduki tangga lagu teratas di radio-radio Malaysia, hal ini menyebabkan ketar-ketirnya para musisi lokal Malaysia yang lagu-lagu mereka kurang diniminati, kalah oleh lagu-lagu dari Indonesia, hingga menyebabkan permintaan musisi Malaysia kepada pemerintahnya untuk mengurangi peredaran musik-musik asing di Malaysia. Hal inilah menurut penulis menjadi suatu yang kontra produktif yang sering penulis katakan bahwa selera orang terhadap suatu musik tidak dapat di intervensi oleh siapapun, industri musik adalah suatu industri yang fair yang hakimnya adalah para pendengar musik itu sendiri. Yang harus dilakukan oleh musisi-musisi Malaysia adalah introspeksi diri membuat analisa serta melakukan perubahan-perubahan yang positip ke depannya, bukan dengan cara penjegalan terhadap musik luar. Kemudian kita beralih ke musisi wanita Indonesia yang telah go international yaitu Anggun yang kiprahnya di tingkat internasional medapatkan sambutan positif dan lagu-lagunya di Eropa mendapat demand yang bagus. Sederet kisah sukses diatas tentunya dapat dijadikan spirit bagi musisi-musisi Indonesia lainnya untuk berkiprah di tingkat internasional dan berkarya lebih progresif ke depannya, seperti kata pepatah "banyak jalan menuju Roma" dan seperti cita-cita Bung Karno, galilah musik-musik yang berasal dan berakar dari budaya bangsa sendiri dan suarakan ke penjuru dunia !!!

No comments:

Post a Comment